Medan (Pewarta.co)-Rektor Universitas Sari Mutiara (USM) Indonesia, Prof. Dr. Ivan Elisabeth Purba, S.H., M.Kes., menekankan adaptasi dan karakter di era Artificial Intelligence (AI).
Karena menurut rektor, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga harus memiliki nilai-nilai yang menjadi pembeda sekaligus bekal menghadapi perubahan zaman.
Apalagi, perkembangan kecerdasan buatan atau AI, perubahan dunia kerja, hingga meningkatnya berbagai tantangan sosial menuntut lulusan perguruan tinggi untuk terus beradaptasi dan memperkuat kompetensi.
Di tengah situasi yang sulit diprediksi itulah, kemampuan memanfaatkan teknologi perlu diimbangi karakter, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.
Pesan tersebut disampaikan Ivan pada hari pertama wisuda USM Indonesia Periode II Tahun Akademik 2025/2026 di Griya Benn Convention Hall, Medan, Kamis (22/10/2026).
Pada wisuda ini Ivan menyerahkan ijazah untuk lulusan Magister Kesehatan Masyarakat (S-2 Kesmas), lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat (S-1 Kesmas) dan lulusan Farmasi (S-1 Farmasi).
Dalam sambutannya, Ivan menggambarkan situasi saat ini sebagai masa yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.
Ia menuturkan, perubahan berlangsung sangat cepat dan sulit diprediksi, sementara persoalan pengangguran serta bencana alam masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah mahasiswa dan keluarga besar USM Indonesia turut menjadi korban bencana.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga harus membangun kepedulian dan kemampuan memberikan kontribusi nyata ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
Di tengah perubahan tersebut, perkembangan AI menjadi salah satu hal yang perlu dicermati oleh para lulusan. Teknologi ini membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas, mendukung penyelesaian masalah, dan mendorong inovasi di berbagai bidang.
Namun, pemanfaatannya harus disertai kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab, serta kesiapan untuk terus belajar.
Ia menegaskan, lulusan perguruan tinggi dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana memanfaatkannya secara tepat untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Karena itu, kesiapan menghadapi era AI bukan semata-mata persoalan kecakapan digital, melainkan juga kemampuan mempertahankan integritas dan nilai kemanusiaan di tengah perubahan yang semakin cepat.
Untuk mempersiapkan lulusan yang mampu menghadapi tantangan tersebut, USM Indonesia menekankan lima nilai utama atau core values, yakni spiritualisme, intelektualisme, profesionalisme, nasionalisme, dan globalisme yang dirangkum dalam akronim STRONG.
Menurut Ivan, nilai-nilai tersebut mendukung visi USM Indonesia untuk menjadi universitas yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing global.
Spiritualisme jadi Landasan Keteguhan Sikap dan Perilaku
Para lulusan diharapkan mampu berkarya, memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, serta memiliki karakter yang membedakan mereka dari lulusan perguruan tinggi lainnya.
Spiritualisme menjadi landasan keteguhan sikap dan perilaku, intelektualisme menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, sedangkan profesionalisme tercermin melalui disiplin dan kualitas kerja.
Nasionalisme mendorong kecintaan terhadap bangsa, sementara globalisme membentuk wawasan luas agar lulusan mampu menghadapi persaingan internasional.
Ivan mencontohkan keterlibatan mahasiswa USM Indonesia dalam membantu penanganan korban bencana di wilayah Sumatera dan Aceh sebagai wujud kepedulian sosial sekaligus penerapan nilai nasionalisme.
Ia juga menekankan pentingnya integritas akademik yang berlandaskan kejujuran, etika, dan tanggung jawab dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.
Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai konsep selama masa perkuliahan, tetapi diterapkan dalam kehidupan profesional dan sosial setelah para wisudawan menyelesaikan pendidikan.
Wisudawan dari Luar Sumatera Utara
Wisuda periode ini diikuti lulusan yang tidak hanya berasal dari Sumatera Utara, tetapi juga sejumlah provinsi lain, antara lain Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, dan Papua Barat.
Keberagaman asal daerah tersebut mencerminkan jangkauan pendidikan USM Indonesia yang menjangkau mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia.
Pada kesempatan itu, Ivan juga mengingatkan para wisudawan untuk tidak melupakan peran orangtua di balik keberhasilan mereka menyelesaikan pendidikan tinggi.
Ia mengenang kerja keras pendiri kampus, Ibunda Bidan Sauria br. Sitanggang dan Ayahanda Drs. Washington Purba, yang menurutnya merupakan sosok orangtua dengan kemauan kuat, disiplin, serta cita-cita tinggi bagi anak-anaknya.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang anak tidak terlepas dari perjuangan, pengorbanan, dan harapan orangtua yang menyertai perjalanan pendidikannya.
“Kepada para wisudawan, apa yang kami alami hendaknya juga dirasakan, bagaimana orangtua mengharapkan anaknya berhasil dan sukses. Karena itu, tetaplah hormati orangtua. Di balik toga ini ada doa orangtua. Ada air mata dan harapan orangtua, dan ada banyak biaya yang sudah dikeluarkan,” ungkap Ivan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Sari Mutiara Medan, Dr. Parlindungan Purba, S.H., M.M., mengingatkan pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap perkembangan teknologi.
Menurutnya, AI dapat membantu manusia menemukan solusi dan mempermudah pekerjaan.
Namun, teknologi tersebut tidak seharusnya menggantikan sentuhan manusia ataupun membuat penggunanya bergantung sepenuhnya pada mesin.
“AI bisa bantu cari solusi, tetapi tidak bisa menggantikan sentuhan manusia. Pemanfaatan AI itu bukan merobotkan manusia. Kita pakai AI untuk memudahkan, tapi jangan bergantung padanya,” imbuhnya.
Pesan ini menjadi relevan bagi para lulusan yang akan memasuki dunia kerja dengan kebutuhan kompetensi yang terus berubah.
Kemampuan memanfaatkan teknologi perlu disertai kebijaksanaan dalam menentukan kapan teknologi digunakan dan kapan pertimbangan serta sentuhan manusia tetap diperlukan.
Parlindungan juga berharap hubungan antara universitas dan alumni dapat terus terjaga setelah prosesi wisuda.
Menurutnya, alumni merupakan bagian penting dari keluarga besar kampus yang dapat menjadi mitra bertukar informasi, memperluas jejaring, dan mencari solusi bersama ketika menghadapi kendala.
Parlindungan yang juga sebagai Konsul Kehormatan Korea Selatan untuk wilayah Medan/Sumatera Utara ini turut mengapresiasi para lulusan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang mampu menyisihkan waktu untuk menempuh pendidikan di tengah kesibukan sehari-hari.
Kepada para lulusan, Parlindungan berpesan agar ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Seluruh pencapaian ini merupakan hasil sinergi dan kerja sama berbagai pihak, mulai dari para orang tua, masyarakat, mahasiswa, dosen, hingga alumni, yang bersama-sama berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan, relevansi lulusan, serta penguatan inovasi dan riset yang berdampak,” kata Parlindungan.
Ia menegaskan, Yayasan Sari Mutiara Medan berharap kolaborasi berbagai pihak terus terjaga untuk memperkuat peran USM Indonesia dalam mendukung kemajuan pendidikan tinggi dan pembangunan bangsa.
Dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi, USM Indonesia juga terus diarahkan untuk meningkatkan kualitas lulusan, memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri, mendorong produktivitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta memperluas kemitraan nasional dan internasional.
Kepala LLDikti : AI pada Era ini Dibutuhkan
Wisuda tersebut turut dihadiri Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I Sumatera Utara, Prof. Drs. Saiful Anwar Matondang, M.A., Ph.D yang juga menegaskan bahwa AI pada era ini dibutuhkan, namun tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia, seperti tenaga kesehatan.
Dikatakannya, AI berfungsi sebagai alat bantu atau asisten klinis.
Yang bisa dikerjakan robot adalah tenaga administrasi.
Sementara tenaga kesehatan tetap menjadi pengambil keputusan utama.
“Kami meyakini pendidikan karakter dan pendidikan etika profesi yang sudah diperoleh di USM indonesia itu adalah modal yang besar untuk mengalahkan AI yang tidak bisa menyentuh hati manusia,” kata Saiful.
Ia juga mengingatkan, tenaga paramedis masih dibutuhkan. AI tidak bisa berbahasa sesuai dengan bahasa manusia, dan tidak bisa berkomunikasi dengan kontekstual yang diberikan oleh pasien dan keluarga.
Prosesi wisuda kali ini menjadi momen istimewa bagi Parlindungan Purba yang bertepatan dengan ulang tahunnya ke-63.
Ia menyebut kebersamaan dengan para lulusan sebagai hadiah ulang tahun tersendiri.
Dalam kesempatan itu, ia juga berharap para wisudawan yang berfoto bersamanya dapat meraih pencapaian yang lebih baik pada tahun-tahun mendatang. (gusti)







