Pewarta Proxy

📋 Server Request & Proxy Logs

Loading active proxy settings...
Developed by Khairul Adha (adhexa.id)
Mengambil log server...

⚙️ Pengaturan Proxy Target

  • Hubungi Kami
  • Redaksi
  • Pasang Iklan
Sabtu, 31 Oktober 2026
Pewarta.co
  • HOME
  • Medan
  • Sumut
  • RIAU
  • Aceh
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Internasional
  • Sport
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • HOME
  • Medan
  • Sumut
  • RIAU
  • Aceh
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Internasional
  • Sport
  • Advertorial
No Result
View All Result
Pewarta.co
No Result
View All Result
Home News Sumut
Betapa Mengerikan Penyakit Ini!

Betapa Mengerikan Penyakit Ini!

by NiahLubis
Sabtu, 24 Oktober 2020
in Sumut
0
SHARES
333
VIEWS
FacebookTwitterWhatsappLineWechat

PADA Maret-Mei 2020, saat berbagai orang di belahan penjuru dunia mengurung diri di rumah karena Pandemik Covid-19, namun seorang Tengku Bobby Lesmana memilih membantu mereka yang ada di frontiers (garda depan). Staf LSM yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kesehatan ini serta beberapa rekannya acap mendropping logistik di RSHAM (Rumah Sakit Haji Adam Malik) dan RSMF (Rumah Sakit Martha Friska) Multatuli.
Bersama beberapa rekannya itu, hampir seratusan rumah ibadah (masjid dan gereja) ia antarkan antiseptik, sabun cair cuci tangan dan karbol dari seorang dermawan di kota multi etnis ini. Membagikan penganan ala kadarnya kepada mereka yang pendapatannya tergerus akibat resesi global dari dampak penyakit tadi.

Apa mau dikata, di September yang orang bilang bulan ‘September Ceria’ itu, penyakit yang tak memandang kasta ini malah menyapa Bobby. Bukan hanya Bobby. Penyakit itu turut menyeret istri dicintainya, Leli Noer, presenter di iNews Sumut.

bacajuga

No Content Available

“Entah darimana dan siapa kami terpapar. Aku merasakan betapa mengerikan penyakit ini,” tuturnya membagikan kisah yang juga ditulisnya di laman media sosialnya saat penyakit itu datang menyapa.
Bobby yang juga jurnalis foto itu mengatakan, dirinya tak bisa bernafas, lemas dan batuk bagaikan godam menghantam paru-paru dan kepalanya.

Hanya air mata dan zikir yang bisa dilakukannya selain rasa takut dan bingung saat Sang Belahan Jiwa, Leli Noer demam tinggi dan susah untuk bernafas pada suatu senja nan temaram waktu itu.
Ketakutannya seolah bertambah lantaran saban hari menerima berita kematian, apakah itu saudara, rekan, kolega ataupun warga disekitar perumahan.

“Jikalau Allah memberikan kesembuhan bagi kami, aku berharap dapat berperan lagi membantu mereka yang ada di garda terdepan dan mereka yang terpapar penyakit mematikan ini,” ungkap pria berkaca mata ini.

Aktivitasnya pun berhenti total awal September lalu. Dan September berganti Oktober, Allah menjawab permintaan dan doa tulus sepasang suami istri ini lewat sepucuk surat dari Dinas Kesehatan Kota Medan, menyatakan bahwa Sang Belahan Jiwa telah bebas dari isolasi mandiri.

Bobby menuturkan, beberapa pihak bertanya, mengapa tidak ada lagi SWAB lanjutan apabila SWAB kedua masih menunjukkan hasil positif.

“Kami pun sempat bertanya hal yang sama kepada petugas Puskesmas yang datang ke rumah kami. Tetapi berdasarkan Panduan Penanganan Covid-19 Revisi 5 dijelaskan bahwa ‘.. Jika Selama Isolasi 10+3 hari tanpa gejala, maka dianggap sudah sembuh dan tidak perlu dilakukan SWAB ulang’,” kata Bobby menyebutkan isi revisi panduan tersebut.

Bobby sependapat dengan pernyataan berulang ulang disampaikan oleh para pakar dan pejabat berwenang baik skala nasional maupun internasional. Covid adalah musibah. “Pandemi ini adalah musibah bukan aib!”
Dia menyayangkan adanya pandangan dari masyarakat terutama awam dan tak memahami dunia medis, yang beranggapaan bahwa penyakit ini adalah aib bagi penderitanya. Ditegaskannya, Covid diderita bukan karena perbuatan yang menyimpang dan dilarang Tuhan, tetapi karena tertular dari orang lain melalui udara dan percikan ludah atau liur.

“Bagi saya, isteri dan rekan kami, yang telah sembuh dari penyakit yang mematikan tersebut berpendapat, bahwa penyakit yang sangat membuat penderitanya sekarat pada waktu saat tertentu, haruslah dihindari bagi mereka yang belum terkena musibah ini,” sebutnya.

Untuk itu, Perilaku 3 M yakni Menjaga Jarak, Memakai Masker, dan Mencuci Tangan pakai Sabun pada air yang mengalir, menurutnya haruslah digaungkan paling tidak dimulai dari diri sendiri.
Kiranya, imbuh Bobby, aib itu bagi orang yang berkerumun tanpa ada batas jarak, tanpa memakai masker, dan mengaku tidak sakit, padahal ia telah demam tinggi, dan tak merasakan aroma tapi masih berkeliaran di ruang umum.

Bobby menuturkan, seorang staff yang melakukan SWAB kepada mereka di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara menyatakan bahwa di provinsi ini terlalu banyak OTG (Orang Tanpa Gejala).

“Inilah sebenarnya gunung es yang sangat berbahaya. Satu hal lagi, seseorang itu mengetahui dirinya bergejala, apakah demam, batuk, flu, tapi saat disarankan untuk rapid test atau SWAB, menolak dengan alasan tidak sakit, mahal atau takut ketahuan positif. Padahal dialah yang dapat membuat orang lain tertular. Tidak bermaksud memvonis, namun begitu adanya,” kata Bobby menirukan ucapan petugas tersebut.

Isolasi mandiri, adalah pilihan berikutnya yang harus diputuskan setelah penyakit itu mendatangi pasangan suami istri ini. Menurut Bobby, mereka memilih isolasi bukan keputusan sendiri, tapi setelah berdiskusi dan konsultasi dengan keluarga dan dokter, terutama dokter spesialis paru. Pasalnya, diketahui virus Covid-19 menyerang bagian paru-paru penderitanya.

“Memilih isolasi di rumah menjadi sebuah keputusan yang kami ambil, terutama saya sejak dinyatakan positif Covid,” ucapnya.

Meski isolasi di rumah, 3M tetap mereka terapkan, terutama jaga jarak dengan istri. Tidak sebatas jarak 1 hingga 2 meter. Namun menjaga jarak, dari pisah makan, sampai harus pisah ranjang dan pisah kamar.

“Dan ini berlangsung satu bulan lebih. Karena kami sadar, kami harus saling menjaga untuk tidak memaparkan satu sama lain. Bahkan ketika saya dinyatakan sembuh, kami tetap menjaga jarak, karena istri masih kondisi penyembuhan,” katanya.

Yang membuat Bobby merasa terpuruk adalah saat ia tidak bisa memeluk orang yang dicintainya sebagai bentuk dukungan menguatkan dan semangat dari orang terdekat.

“Itu tidak bisa kami lakukan. Bahkan istri berontak dan menangis, ketika ingin dipeluk karena sedih atau hanya sekedar dukungan. Kami mencoba bertahan, namun akhirnya luluh dan saya memeluk istri, lebih untuk memberi dukungan dan semangat. Paling tidak mengurangi beban kesedihannya,” kata Bobby lagi.

Alasan lainnya mereka memilih isolasi mandiri karena hanya berdua di rumah. Menurutnya, jika salah satu diopname dalam waktu tak terbatas, malah membuat satu sama lainnya semakin larut dalam kedukaan yang justru membuat lama penyembuhan ini. Di rumah, mereka menerima berbagai obat dan multivitamin dari rekan dan keluarga atau beli sendiri. Mulai dari obat keras nan harga selangit hingga ramuan herbal mereka santap.

“Kalaulah di rumah sakit tentu kami tak bisa mencoba berbagai obat dan ramuan itu,” ucapnya.

Sejak awal September penyakit itu menyapa mereka, yang mereka duga hanya flu biasa, lalu gejala tifus hingga status penderita Covid dicabut dari Bobby pada paruh Oktober sedangkan isterinya pada pekan ketiga Oktober 2020, khsususnya ia merasa tidak sendiri.

Teman dan saudara begitu besar perhatian kepada mereka. Konsultasi via WA dan telepon tetap dilakukan selama waktu itu. Kalaulah dihitung, beritahu Bobby, mungkin ada lebih dari enam dokter yang meluangkan waktu untuk berbagi saran dan pengalaman kepada mereka, mulai dari Dokter Spesialis Paru, Dokter di Laboratorium, Dokter di Puskesmas dan tiga dokter lainnya. Termasuk paramedis di Puskesmas Pembantu Johor, kawasan tempat tinggal mereka, tetap menyemangati isteri. Silih berganti logistik dikirim dari rekan dan keluarga saban hari selama tiga pekan mereka harus isolasi total.

“Hal ini yang menguatkan istriku, yang sempat shok bagaimana memenuhi kebutuhan dapur selama di rumah. Berbagai macam obat dan multivitamin dikirim kepada kami dari berbagai jenis dan daerah. Bahkan diantaranya kami tahu bukan produk yang murah dikirim ke selatan Medan yang sering dilanda hujan ini. Saling bertukar informasi dengan rekan yang pernah dan sembuh, juga kami lakukan, baik yang di Medan maupun yang berbeda daerah, apa yang Do dan Don’t,” jelasnya.

Diakuinya, ada rasa sedih saat keluarga dan rekan berkunjung ke rumah mengantar logistik, berbicara bahkan berghibah dari balik jendela mobil sedangkan dirinya dari balik pagar dan istri bahkan dari balik pintu rumah yang disekat kawat. Salam pun dilakukan hanya dengan melambaikan tangan dari kendaraan keluarga dan rekan yang berkunjung.

“Tapi kata dan tulisan SEMANGAT dari mereka saat pamit dan diakhir pembicaraan telepon/WA membuat kami percaya diri dan karunia dariNya,” kata Bobby.

Salah satu yang Bobby dan istri syukuri juga, bahwa warga komplek tempat mereka tinggal tidak mengisolasi mereka, seperti yang pernah mereka dengar di wilayah Medan lainnnya.

“Malu sekali awalnya, saat tiga orang staff Puskesmas dengan APD lengkap, pagi hari melakukan SWAB kedua di depan halaman rumah (karena SWAB harus dilakukan di ruang terbuka), dan saat SWAB kedua untuk istri pada pekan berikutnya. Mereka melihat dari masing-masing halaman mereka, tapi setelah itu biasa saja. Mereka tetap menyapa kalau kami berjemur jam 10 pagi di halaman depan. Kadang kala beberapa tetangga mengantar pengantar penganan ala kadarnya kepada kami, dengan meletakkan di pagar rumah kami. Dan selalu bersyukur kepada Allah, bahwa kami tidak sendirian, dan Allah sangat baik kepada hamba-Nya,” kenang Bobby.
Bobby menceritakan, hingga tulisan pengalaman ini dibagikannya, tidak ada perubahan perilaku dari orang orang yang bertemu fisik.

“Walau mereka tahu saya sebagai penderita penyakit tersebut bulan lampau, tak ada perubahan sikap dari mereka. Berjabat tangan dan jarak memang masih saya jaga. Pertemuan dengan orang lain secara fisik, masih saya jaga tidak lebih dari lima menit. Sedangkan isteri masih cenderung mengisolasi di rumah ketimbang keluar,” katanya.

Bobby mengungkapkan alasan mengapa istrinya lebih lama sembuh daripada dirinya. Dijelaskannya, jarak demam awal ia dan isteri berselang dua hari saja. Sedangkan jarak SWAB mereka berbeda 10 hari.
Kenapa bisa?

Mereka melakukan rapid test bersamaan pada 7 September di Klinik UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara). Namun, mereka berdua hasilnya non reaktif. Lantaran demam tak kunjung sembuh maka tanggal 15 September mereka melakukan rapid test kedua di Posko Satgas Covid-19 Sumut di Rumah Dinas Gubsu.

“Disitu aku dinyatakan reaktif dari 2 x rapid test pada alat yang berbeda dan isteri tetap negatif,” ujarnya.

Karena hasilnya reaktif maka disposisikan oleh Tim Satgas untuk SWAB di Dinkes Provsu. Sedangkan isteri tidak dilakukan SWAB karena non reaktif. Sepekan kemudian hasil SWAB Bobby yang dinyatakan positif diambil oleh isteri ke kantor DinKes Provsu pada 23 September, dan mengajukan diri untuk SWAB juga. Selang tiga hari kemudian isteri dikabarkan positif juga. Lambatnya diketahui gejala ini diderita istri justru memperburuk comorbidnya berupa bronchitis.

Atas saran dari rekan medis, pada 6 Oktober mereka berdua melakukan Rontgen di salah satu lab swasta di Medan.

“Alhamdulilah paru-paruku sudah bersih. Tetapi tidak dengan paru paru istri terutama pada paru kirinya. Penanganan lebih lanjut untuk membersihkan paru itu lah yang membuat proses ini menjadi lebih lama dan serius,” bebernya.

Tanggal 5 Oktober Bobby dinyatakan bebas dari Covid setelah proses SWAB kedua dilakukan pada 30 September sebelumnya. Dikarenakan istri belum sembuh hingga SWAB kedua yang dilakukan pada 9 Oktober lalu, maka Bobby juga ikut melakukan isolasi mandiri juga hingga keluarnya surat resmi tanggal 15 Oktober.

“Tapi karena pertimbangan daya tahan tubuh dan orang lain aku masih membatasi keluar rumah maksimal 2 jam per hari,” tukasnya.

Diceritakan Bobby, rasa jenuh dan suntuk tentulah mereka berdua rasakan selama hampir dua bulan di rumah. Bahkan sang isteri pernah merajok sangking jenuhnya di rumah. Lalu mereka memutuskan untuk pergi keluar rumah saat awal pagi ke seputaran Kebun Binatang Simalingkar B. Mereka berjalan di rimbun pepohonan nan teduh saat rerumputan masih berselimut halimun ketika orang masih satu dan dua orang saja melintas di kawasan berlereng tersebut. Mobil jauh mereka parkirkan di depan Medan Zoo itu. Pernah juga mereka pergi ke Binjai melalui jalan toll.

“Bagaikan orang yang lagi eskete (istilah Medan untuk boikot) aku duduk di depan memandu mobil dan isteri duduk di belakang. Selama di perjalanan AC sengaja dimatikan agar semilir angin dari perkebunan tebu dan sawit masuk ke dalam mobil. Saat tiba di Kota Rambutan ini lapar dan dahaga menyapa kami, maka aku sebagai orang yang dianggap sudah negatiflah yang membeli juadah di kota itu. Melihat istri tertidur di jok belakang, tak terasa ada air mata menetes, aahhh rasa sedih dan iba itu bercampur baur tak karuan rasanya,” sebutnya.

Malam hari kadang rasa jenuh itu timbul. Pergilah mereka mengelilingi pusat kota Medan. Posisi tetap sama.

“Aku duduk memandu di depan dan dia duduk di belakang. Hujan dan basahnya jalanan membuat rasa syahdu dan romantis. Tapi apa daya saat itu kami belum boleh bersentuhan,” ujarnya.

Bobby menyadari, melihat kisah darinya dan rekan maupun saudara yang sembuh, barulah dirasakan mahalnya sakit itu.

“Dan bagi kalian yang belum dan semoga tidak terkena penyakit ini, marilah kita saling menjaga. Jaga jarak, tidak keluar rumah atau berjumpa seseorang kalau memang tak perlu. Selalu cuci tangan dan acap memakai masker adalah resam yang harus dialami oleh kita dan insan di belahan bumi yang mulai renta ini,” pintanya.

Dia juga meminta agar menghargai para pejuang kemanusiaan yang berjibaku menyelamatkan nyawa yang teman bukan saudara pun bukan.

“Hentikan menyalahkan pemerintah yang memang tak bisa diharapkan. Relasi dan keluarga di negeri lain sangat prihatin atas penanganan Global Disease ini. Kami melihat bagaimana susahnya mengenakan pakaian APD ini. Ketika baju itu ditanggalkan, keringat mengucur dari leher dan kening mereka. Juga membayangkan kisah seorang teman paramedis yang berdinas di RSU Banda Aceh menahankan dahaga dan berkemih berbilang jam karena susahnya membuka dan mengenakan kembali APD bak Astronot itu. Bahkan menggunakan pampers karena hyperdiuresis,” kata Bobby mengingatkan.

Dia meminta hentikan diksi atau ucapan bahwa Covid itu adalah Hoax dan Konspirasi Global.

“Sekedar mengulang kisah. Ada seorang teman yang pernah berkoar-koar di Sosmed bahwa ini adalah Hoax dan konspirasi Global. Di grup WA dia meminta bukti mana yang kena Covid dan memention saya menyebutkan dua nama relasi saya yang wafat. Satu purnama kemudian terdengar kabar dia telah berpulang ke hadapan-Nya. Konon kata jiran dan keluarganya dia terkena si virus dari Wuhan itu,” tutur Bobby.

Di penghujung kisahnya Bobby berujar, mungkin masih banyak yang tak yakin dan membantah, kiranya Allah memberikan hidayah kepada mereka bahwa penyakit itu nyata dan sangat merusak.
Terima kasih, Tengku Bobby Lesmana, telah sudi berbagi kesah dan kisah kepada kami. (gusti/red)

Tags: Betapa MengerikanPenyakit Ini!
ShareTweetSendShareShare
Previous Post

Driver Ojol Tewas di Begal Pelaku Juga Tewas di Massa

Next Post

Polres Padangsidimpuan Peringati HKGB ke- 68

Related Posts

Kapolda Sumut Paparkan 4 Program Prioritas, Perkuat Sinergi Polisi Bersama Masyarakat
Sumut

Kapolda Sumut Paparkan 4 Program Prioritas, Perkuat Sinergi Polisi Bersama Masyarakat

Jumat, 30 Oktober 2026
Peringati Sumpah Pemuda, Kades Tanjung Rejo Dukung Pembinaan Atlet Voli Muda
Sumut

Peringati Sumpah Pemuda, Kades Tanjung Rejo Dukung Pembinaan Atlet Voli Muda

Jumat, 30 Oktober 2026
Perkuat Sinergi Antar-APH, Kalapas Sibolga Kunjungi Polres Sibolga
Sumut

Perkuat Sinergi Antar-APH, Kalapas Sibolga Kunjungi Polres Sibolga

Jumat, 30 Oktober 2026
Tinjau Proyek Turap di Nias, Bobby Nasution Minta Pengerjaan Dipercepat Jelang Nataru
Sumut

Tinjau Proyek Turap di Nias, Bobby Nasution Minta Pengerjaan Dipercepat Jelang Nataru

Kamis, 29 Oktober 2026
Optik UD Jaya Gelar Pemeriksaan Mata Gratis di Lapas Kelas IIA Rantau Prapat, Warga Binaan, Tahanan, dan Pegawai Turut Mendapatkan Layanan
Sumut

Optik UD Jaya Gelar Pemeriksaan Mata Gratis di Lapas Kelas IIA Rantau Prapat, Warga Binaan, Tahanan, dan Pegawai Turut Mendapatkan Layanan

Kamis, 29 Oktober 2026
Polres Paluta Gelar Apel Pasukan Ops Patuh Toba 2026
Sumut

Polres Paluta Gelar Apel Pasukan Ops Patuh Toba 2026

Senin, 26 Oktober 2026
📢 ADVERTORIAL
31 Oktober 2026, 02:35:00 WIB
Pewarta.co
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Cyber

Copyright © 2025 Pewarta.Co All Right Reserved | PT. Zaki Angkasa Hamdani | Design by Adha

No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Politik
  • Sumut
    • Asahan
    • Tapanuli Utara
    • Batubara
  • RIAU
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Sport
  • Selebrity
  • Pendidikan
  • Polisi Kita

Copyright © 2025 Pewarta.Co All Right Reserved | PT. Zaki Angkasa Hamdani | Design by Adha